Drone yang dirancang untuk militer AS menjatuhkan drone lain dengan menabraknya di udara.

 

Perangkat terbang canggih ini dilengkapi dengan penubruk yang bertujuan untuk menjatuhkan drone lain sambil terbang.

Drone ini menjatuhkan drone lain dengan menabraknya di udara.

Drone yang dinamai The Anvil ini dibuat untuk untuk melawan ancaman dari berbagai drone yang digunakan oleh teroris baik di dalam maupun luar negeri.

Pada tahun lalu, ISIS mengeluarkan ancaman untuk mengirimkan wabah ke AS dan beberapa negara Uni Eropa dengan drone yang dilengkapi dengan bom dan senjata lainnya.

Kelompok radikal ini banyak menggunakan drone yang biasa dijual di pasaran untuk melindungi khalifah mereka di Siria dan Irak.

The Anvil yang merupakan sebuah quadrocopter dibuat oleh Anduril Industries, perusahaan pertahanan dan keamanan swasta di AS dan dilengkapi dengan sederetan sensor untuk mengenali, melacak, dan mencegat target.

Perangkat terbang ini dilengkapi dengan alat penubruk

The Anvil dirancang untuk penggunaan oleh pihak militer, tetapi juga dapat digunakan untuk melindungi lokasi yang rentan terhadap serangan drone

The Anvil ditenagai dengan beberapa baterai dan motor yang dirancang khusus untuk penerbangan yang singkat namun berkecpatan tinggi.

Drone ini menyerang taget dari bawah, dan dirancang untuk mampu menerima dampak dari tubrukan dan bertahan untuk penyerangan berikutnya.

Perusahaan produsen drone ini memasangkan rotor dan komponen penting lainnya di bagian bawah pesawat untuk mengamankan komponen-komponen tersebut dari tabrakan.

The Anvil dirancang untuk pihak militer, tetapi juga dapat digunakan untuk melindungi lokasi yang lebih dekat dengan rumah yang rentan terhadap serangan drone, seperti bandara.

Drone ini dikabarkan telah digunakan oleh pihak militer AS

Kebutuhan untuk melindungi aset kenegaraan menjadi mendesak sejak awal bulan Oktober 2019 lalu ketika polisi menggagalkan rencana teror untuk membom pangkalan militer menggunakan drone.

Seseorang yang mengaku sebagai pendukung salah satu negara Islam berencana untuk menyerang tentara dan polisi Inggris, namun gagal karena pemilik tempat tinggalnya menemukan setumpuk pisau, kapak, dan drone rakitan sendiri di rumahnya.

Hisham Muhammad, usia 25 tahun, diduga telah mempelajari cara-cara memodifikasi drone untuk membawa dan menjatuhkan bom.

Pada hari raya Natal lalu, bandara Gatwick berhenti beroperasi selama tiga hari ketika sebuah drone terlihat terbang di atas landasan pacu namun tidak diketahui siapa pilotnya. Pihak bandara siap memberikan hadiah £ 50.000 untuk siapapun yang menemukan pelakunya.

Drone ini dilengkapi dengan sederetan sensor untuk mengenali, melacak, dan mencegat target.

Di berbagai berita lain, drone ‘granat terbang’ telah dikenalkan oleh para produsen senjata pada awal tahun ini. Ada juga drone untuk manusia yang mampu membawa penumpang pada kecepatan 100 m/jam. Selain itu, Russia diakabarkan sedang membangun armada robot pembunuh, yang termasuk drone pengebom seukuran kucing.

Apakah anda khawatir mengenai teknologi drone yang dikombinasikan dengan senjata? Tuliskan opini anda di kolom komentar!

 

sumber: thesun.co.uk