Robot-robot kecil ini dirancang seperti burung, serangga, dan hewan kecil lainnya, dan dapat tetap tersembunyi dari mata manusia saat memata-matai area yang terlarang bagi perangkat pengawasan yang lebih besar.

Drone mata-mata ini mampu lepas landas dan mendarat dimanapun, sambil menelusuri jalanan kota dan gang-gang kecil, dan drone-drone ini mampu berhenti dan berbelok dengan mudah. Drone-drone mikro ini juga mampu menyerang, dapat dilengkapi dengan sederetan senjata dan sensor, seperti pengejut listrik, peledak, kamera untuk merekam video resolusi tinggi, sensor inframerah, alat pemindai plat kendaraan, dan alat pendengar.

Sekelompok peneliti yang tergabung dalam Tim Penelitian Ilmiah Angkatan Udara AS sedang mengembangkan apa yang disebut sebagai MAV atau Micro Aerial Vehicle untuk melakukan berbagai misi spionase. Robot serangga ini mampu memasuki wilayah perkotaan dengan mudah dengan kendali dari jarak jauh, dan dilengkapi dengan kamera dan mikrofon di dalamnya.

Perangkat ini memiliki kemampuan untuk mendarat dengan tepat di kulit manusia, menggunakan jarum nberukuran super mikronnya untuk mengambil sampel DNA, lalu terbang kembali. Yang akan dirasakan oleh target hanyalah rasa sakit seperti gigitan nyamuk biasa. Drone ini sulit dideteksi dan mampu menginjeksi alat pelacak RFID (Radio Frequency Identification) ke kulit manusia. Drone ini juga dapat digunakan untuk menginjeksi racun ke musuh saat perang.

AS bukan satu-satunya negara yang menciptakan drone kecil dengan bentuk menyerupai serangga. Perancis, Belanda, dan Israel juga sedang mengembangkan drone-drone serangga ini. Perancis sedang mengembangkan drone mikro yang terinspirasi dari burung. BioMAV (Biologically Inspired AI for Micro Aerial Vehicles) dari Belanda juga sedang membangun drone Augmented Reality burung Beo. Israeli Aerospace Industries (IAI) telah memproduksi drone berbentuk kupu-kupu, dengan berat hanya 20 gram yang mampu memperoleh data intelijen dari dalam ruangan.

Drone kupu-kupu tersebut dengan kamera yang berbobot 0.15 dan kartu memorinya dioperasikan dari jarak jauh dengan menggunakan helm khusus. Operator yang menggunakan helm ini akan mendapatkan tampilan dari drone kupu-kupu tersebut secara real-time.

Dengan bentuk seperti burung, “Nano Hummingbird” merupakan drone yang lebih besar daripada burung kolibri yang sebenarnya dan berukuran seperti telapak tangan manusia dewasa. Drone ini mampu terbang dengan mudah, menyatu dengan sekitarnya, dan mampu bermanuver melalui jendela dan celah-celah di dalam gedung.

Drone burung kolibri yang dibuat oleh AeroVironment ini mampu terbang ke depan, ke belakang, dan ke samping, serta berputar searah jarum jam dan arah yang berlawanan.

Para peneliti telah menciptakan capung robot yang mampu terbang seperti burung dan melayang seperti serangga. Robot terbang ini dirancang untuk fotografi udara, game, penelitian, dan keamanan. Robot capung mirip TechJet dapat digunakan untuk berbagai tugas yang membutuhkan tampilan video live dan mobile seperti fotografi, keamanan rumah/kantor, game, dan spionase.

Robot capung ini sedang dikembangkan untuk memperhitungkan data secara real-time untuk memfasilitasi pengambilan keputusan dengan ekspektasi menyediakan gambaran secara umum bagi remote controller. Robot capung ini dirancang untuk meniru pola terbang serangga asli dan menggunakan sayap frekuensi tinggi untuk melayang di atas target dan untuk menghemat daya baterai. Teknologi sedang dikembangkan untuk memungkinkan robot capung ini untuk mengambil aliran listrik dari kabel dan sumper listrik lainnya sehingga mampu beroperasi selama berhari-hari atau berminggu-minggu.

Para ilmuwan juga sedang mengembangkan miniatur robot laba-laba, yang mampu melakukan misi-misi intelijen. Diperkirakan 30% manusia memiliki ketakutan terhadap laba-laba, sehingga menjadi salah satu ketakutan yang umum di kalangan manusia. Ini wajar, karena laba-laba menakutkan, dan mampu bergerak dengan sangat cepat. Saat ini, para ilmuwan telah membangun laba-laba yang jauh lebih mengerikan, robot berkaki enam yang memang tampak seperti laba-laba, namun mampu bergerak lebih cepat dan bekerja dengan lebih efisien.

Militer Polandia akan segera memiliki drone lebah yang akan menyertai mobil pengangkut aparat bersenjata. Sebuah perusahaan Polandia mengatakan telah mengembangkan drone yang sangat kecil yang dapat terbang di atas medan perang selama 30 menit. Drone ini bekerja sebagai sistem komunikasi, yang mampu beroperasi dengan luar biasa dalam kondisi pertempuran.

Drone ini tidak hanya menawarkan kemampuan pengawasan; mereka dapat menyerang target kecil dengan alat peledak. Kepala drone lebah iniĀ  memiliki dua kamera bawaan dan distabilkan secara elektromekanis dengan giroskop. Setelah drone Lebah ini berada cukup dekat dengan target, drone ini dapat meledak.

Robot serangga yang mampu mendarat ketika tidak ada orang dan mampu bertengger di langit-langit, dilengkapi motor yang minim suara, dan mampu menunggu untuk terbang saat sudah tidak ada orang, dapat menjadi drone yang sangat bermanfaat untuk keperluan pengawasan. MAV lainnya yang juga terinspirasi dari lebah memiliki semacam bantalan elektrostatis sehingga mampu menempel di nyaris segala permukaan seperti kayu, kaca, atau benda berbahan organis yang merespon ke listrik statis. Teknologi ini akan bekerja dengan sangat baik di lantai maupun langit-langit. Dengan energi elektrostatis, para peneliti mengembangkan variasi bahan dan situasi permukaan yang memungkinkan drone ini menempel.

Robot-robot serangga ini mampu terbang melambat sehingga menemukan tempat mendarat yang tepat, dan terbang perlahan sampai mendarat di permukaan. Pada saat itu, bantalan elektrostatis tadi akan dinyalakan, sehingga robot serangga mampu menempel di tempatnya, meskipun motor sudah dalam keadaan mati.

Mengapa membangun robot yang bisa terbang, mendarat dan lepas landas seperti serangga atau merayap di lantai? Jawabannya adalah semua ini merupakan hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, dan merupakan komponen-komponen penting dalam misi pengawasan, serta misi pencarian dan penyelamatan.